Mengenal Virtual Reality dan Potensinya di Masa Depan

Dunia konten saat ini telah berkembang pesat mengikuti kemampuan teknologi untuk menyajikan konten dengan cara yang inovatif dan atraktif. Salah satunya adalah virtual reality yang merupakan pengembangan dari konten video yang membuat penikmatnya bisa menyelami dunia virtual yang benar-benar berbeda dari realita nyata. Lalu apa sih sebenarnya virtual reality?

Teknologi Virtual Reality atau VR merupakan teknologi simulasi visual yang membutuhkan semacam perangkat headset. Di dalam headset tersebut terdapat rekaman atau situasi yang disimulasikan dan ditampilkan pada visual seseorang seakan-akan membawa penggunanya berada di dunia yang berbeda.

VR sejatinya bukanlah teknologi yang benar-benar baru. Teknologi ini merupakan pengembangan dari teknologi visual tiga dimensi yang sebelumnya banyak digunakan sebagai fitur tambahan dalam sebuah tayangan atau film. Antonin Artaud merupakan sosok yang pernah menggunakan istilah la rialite virtuelle dalam kumpulan esai tentang teater, Theatre Son Double. Semenjak buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, kata virtual reality menjadi populer.

Cara Kerja Virtual Reality

Secara umum cara kerja virtual reality adalah membuat sosok pengguna perangkatnya untuk memiliki realitas yang baru dengan bentuk avatar di dunia yang berbeda. Pengguna dengan avatarnya akan bisa “menikmati” suasana lingkungan lewat headset VR.

Penggunanya bisa “menyentuh” dan bisa “berkelana” di dunia tersebut untuk menyelesaikan tugas atau apapun yang ada di dunia tersebut.

Pada dasarnya, headset VR tidak berbeda dengan kaca mata optik. Namun untuk VR terdapat proyektor yang menampilkan dua visual di dalamnya menjadi satu gabungan visual. Ini karena terdapat efek ilusi fokus mata yang menggabungkan dua fokus mata menjadi satu titik. Dengan efek ini kemudian headset VR bisa membentuk sebuah realitas yang menjadi satu dalam satu perangkat.

Untuk melengkapi kesan yang lebih nyata, umumnya headset VR saat ini juga memiliki fitur audio yang akan membangun visualisasi virtual yang ada pada perangkat menjadi lebih nyata. Selain itu, headset VR juga membutuhkan perangkat tambahan seperti handle grip yang berfungsi sebagai “tangan” virtual yang dibutuhkan di dunia virtual.

Perangkat handle grip akan memberikan kemampuan tambahan pada pengguna VR agar bisa “menyentuh”, “mengambil” dan juga melakukan tidakan di dalam dunia virtual.

Selanjutnya jika bila headset VR dilepaskan oleh penggunanya, dunia virtual yang diproyeksikan sebelumnya tidak terbawa ke dunia nyata. Sehingga dunia VR memang hanya terjadi di dalam perangkat dan bukan menyatu dengan realitas.

Dengan prinsip yang cukup sederhana, sebenarnya perangkat Virtual Reality sangat mudah untuk dibuat. Google Cardboard misalnya, yang menunjukkan bahwa membuat perangkat VR ternyata bisa dengan modal karton atau kardus.

Penerapan Virtual Reality

Semenjak awal penerapannya, Virtual Reality bertujuan untuk mensimulasikan sebuah kondisi tertentu. Misalnya, seperti perangkat View-Master yang merupakan simulator visual stereoscopic membuat penggunanya bisa melihat foto dengan lebih “nyata” karena dekat dengan pandangan mata. Produk View-master sendiri telah ada sejak tahun 1939.

Menariknya, di tahun 60an muncullah sebuah konsep perangkat televisi bernama Sensorama yang menjanjikan pengalaman realitas virutal dengan mengubah televisi menjadi perangkat menonton pribadi. Konsep ini dipercaya menjadi cikal bakal lahirnya headset VR yang menempel di muka pengguna.

Pada generasi awal, teknologi VR hanya terbatas pada kebutuhan simulasi seperti simulasi penerbangan, simulasi medis, desain industri, dan juga untuk kebutuhan militer. Namun saat ini penerapan virtual reality sudah sangat beragam dan banyak berguna untuk berbagai keperluan.

Di era tahun 1990an, perangkat game konsol berkembang pesat. Mulai dari Nintendo, Sega, dan Atari bersaing untuk menjadi yang terbaik. Sega yang mengetahui teknologi VR rupanya berusaha untuk mencoba penerapan teknologi ini pada konsol mereka.

sega-vr

Dengan teknologi saat itu, Sega VR telah menghasilkan suara stereo, dan memiiki sensor inersia yang mampu melacak posisi dan mendeteksi pergerakan kepala pengguna. Sehingga teknologi Sega VR saat itu sudah mendekati “nyata”.

Uniknya, Sega memutuskan untuk tidak melanjutkan projek ini karena teknologinya yang terlalu realistis. Teknologi yang terlalu realistis membuat penggunanya berisiko melukai diri akibat tidak menyadari kondisi nyata. Selain itu dampak lain dari perangkat VR saat itu adalah menghasilkan kesan pusing dan mual. Sehingga Sega memutuskan tidak meluncurkan Sega VR untuk komersial karena berbahaya jika pengguna memakainya terlalu.

Virtual Reality Saat ini

LA Noire VR

Saat ini di era internet yang telah maju dan teknologi visual sudah sangat berkembang, teknologi VR juga masih belum terlihat mendapatkan perhatian khusus. Meski, beberapa perusahaan besar sudah melakukan berbagai penelitian untuk teknologi VR. Contohnya seperti Google, Sony, Valve, Microsoft dan Samsung merupakan beberapa perusahaan yang berusaha mengembangkan teknologi VR menjadi lebih maju.

Penerapan VR pun semakin beragam. Hingga saat ini virtual reality berguna untuk berbagai keperluan seperti pendidikan, pengajaran anatomi, militer, pelatihan astronot, simulasi penerbangan, pelatihan penambang, desain arsitektur, pelatihan supir, dan banyak lagi contoh penerapan teknologi VR.

Berkat teknologi VR ini biaya untuk melakukan pelatihan menjadi lebih ekonomis dan juga bisa menurunkan risiko kecelakaan yang terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi VR terlihat telah banyak berguna untuk kehidupan sehari-hari.

Masa Depan Virtual Reality

Banyak yang menganggap bahwa teknologi virtual reality memiliki masa depan yang cerah. Selain karena teknologi ini telah terbukti memberikan manfaat pada banyak proses edukasi, teknologi ini juga menjadi cara baru untuk menyajikan informasi. Terbukti dengan meningkat pesatnya tren penggunaan perangkat VR untuk kebutuhan gaming.

Dunia gaming adalah salah satu industri yang paling efektif untuk mengadopsi teknologi VR. Alasannya karena teknologi VR mampu mengubah dunia fiksi menjadi sebuah realita baru. Jadi seakan-akan visualisasi yang ada di VR bisa terindra oleh manusia. Dan dunia fiksi tersebut kebanyakan lahir dari konsep dan imajinasi game.

Penggunaan virtual reality juga punya potensi di bidang psikologi karena realitas ilusi yang ada pada VR ternyata juga bisa memberikan manfaat terapi psikologis untuk pasien. Hal ini akan menjadi sebuah konteks baru dalam penerapan VR untuk keperluan yang lebih praktis.

Para operator pariwisata pun juga mulai menggunakan virtual reality untuk kebutuhan wisata. Mulai dari untuk mempromosikan destinasi hingga memberikan pengalaman berwisata yang berbeda bagi para turis.

Melihat tren yang ada, tidak menutup kemungkinan di masa mendatang masyarakat akan banyak menggunakan VR untuk kebutuhan sehari-hari.

Bagaimana menurutmu? Apakah Virtual Reality bisa menjadi salah satu teknologi revolusioner beberapa tahun mendatang? Kira-kira bisa untuk apa ya VR di masa depan?

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Ikut berkomentarx
()
x